Pengertian puasa Ramadhan

Pengertian puasa Ramadhan


PUASA RAMADHAN

Pengertian puasa Ramadhan selain menjaga hawa nafsu, juga wajib dilakukan oleh umat Islam. Hal ini sudah dijelaskan dalam firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 183 yaitu:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orangorang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Jadi firman Allah SWT di atas menjelaskan bahwa melaksanakan puasa Ramadhan adalah wajib hukumnya, di mana hal tersebut adalah bentuk pertanggungjawaban manusia kepada penciptanya secara langsung serta kegiatan yang menyangkut hablum minallah.

A. Cara Menentukan Dimulainya Awal Bulan Ramadhan
  • Dengan Ru’yatul Hilal artinya dengan melihat bulan pada tanggal 1 Ramadhan secara langsung atau dengan teropong 
  • Dengan ilmu hisab atau perhitungan bulan oleh ahli falaq 
  • Dengan menyempurnakan bulan sya’ban 30 hari, apabila ru’yah terhalang 
  • Mendengar kabar yang tidak mutawatir, yaitu kabar orang banyak yang tidak mungkin terjadi kebohongan. 
B. Tatacara Puasa Bulan Ramadhan
  • Niat pada malam hari
  • Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari  
  • Waktu maghrib segera berbuka puasa dan membaca doa sebagai berikut 
  • Disunnahkan makan makanan yang manis terlebih dahulu   
  • Mengambil makanan jangan berlebihan 
  • Pada waktu makan sahur, Mengakhirkan makan sahur 
C. Macam-macam Tingkatan dalam Berpuasa
Puasa digolongkan menjadi tiga macam tingkatan:
  1. Puasa orang awam (orang kebanyakan), Puasa orang awam adalah menahan makan dan minum dan menjaga kemaluan dari godaan syahwat.  Tingkatan puasa ini adalah tingkatan puasa yang paling rendah, maka kata Rasulullah Saw puasa orang ini termasuk puasa yang merugi yaitu berpuasa tapi tidak mendapatkan pahala melainkan sedikit. Hal ini lah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah Saw dengan sabdanya: “banyak orang berpuasa tapi tidak mendapatka pahala berpuasa, yang ia dapatkan hanya lapar dan dahaga.” 
  2. Puasanya orang khusus adalah selain menahan makan dan minum serta syahwat juga menahan pendengaran, pandangan, ucapan, gerakan tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa”. Maka puasa ini sering disebutnya dengan puasa para Shalihin (orang-orang saleh). Seseorang tidak akan mencapai kesempurnaan dalam tingkatan puasa kedua ini kecuali harus melewati enam hal sebagai prasayaratnya, yaitu menahan pandangan dari segala hal yang dicela dan dimakruhkan. Menjaga lidah dari perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri. Menggunakan waktu untuk berzikir kepada Allah serta membaca Al-Quran. Menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik. Mencegah anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa. Tidak berlebih-lebihan dalam berbuka, sampai perutnya penuh makanan. Hatinya senantiasa diliputi rasa cemas (khauf) dan harap (raja) karena tidak diketahui apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah. 
  3. Puasa khususnya orang yang khusus adalah ‎puasanya hati dari kepentingan jangka pendek dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah SWT. Puasa khusus yang lebih khusus lagi yaitu, di samping hal di atas adalah puasa hati dari segala keinginan hina dan segala pikiran duniawi, serta mencegah memikirkan apa-apa selain Allah Swt (shaum al-Qalbi „an al-Himam ad-Duniyati wa al-Ifkaar al-Dannyuwiyati wakaffahu „ammaa siwa Allaah bi al-Kulliyati). Tingkatan puasa yang ketiga ini adalah tingkatan puasanya para nabi, Shiddiqqiin, dan Muqarrabin.

Belum ada Komentar untuk "Pengertian puasa Ramadhan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel